<< اللهم صل على محمد وسلم >> << اللهم صل على محمد وسلم >>

Senin, 09 Februari 2026

011.KH.ABDUL KARIM (1856 -- 1954 ) PENDIRI PONDOK PESANTREN LIRBOYO KEDIRI JAWA TIMUR

KH. ABDUL KARIM (1856 -- 1954 M) 
PENDIRI PONDOK PESANTREN LIRBOYO KEDIRI JAWA TIMUR


    📝Penampilan pendiri dan pondok pesantren Lirboyo ini, memang tidak mengesankan seorang kiai besar. Beliau ini cukup tawadu` dan sederhana, sehingga tidak salah, kesan yang tertangkap kebanyakan orang adalah seperti orang biasa, bukan seorang kiai yang 'alim dan mempunyai santri Sanga banyak, dan hanya orang-orang tertentu saja yang tahu. Karena itu, pernah suatu ada seorang santri yang masih baru yang datang ke pesantren mau mondok dan sempat kecele.

     📝Alkisah, suatu hari ada seorang santri yang datang ke pesantren Lirboyo mau berguru kepada Ky. Abdul Karim, ketika santri baru ini turun dari kendaraan, tepatnya di lingkungan pesantren Lirboyo dan hendak menemui Ky Abdul Karim (yang tidak berpenampilan layaknya seorang kiyai) dengan tanpa sungkan, santri itu meminta bantuan untuk membawakan kopernya ke kamar, dan anehnya, sang kiyai tidak merasa keberatan, justru diam saja dan langusng mengangkat barang bawaan santri tersebut.
Saat santri itu memasuki pesantren dengan diiringi sang kiyai yang membawa koper miliknya, tak sedikit santri Lirboyo yang kaget, bahkan ada yang lari karena ketakutan. Anehnya, kekagetan dan ketakutan santri-santri itu tak membuat santri baru tersebut tanggap, malah biasa-biasa saja, Cuek. Selang beberapa hari kemudian, ketika santri baru itu ikut sholat berjama`ah, dan setelah melihat bahwa orang yang membawakan kopernya kemarin itu menjadi iman, dia baru tahu bahwa orang yang membawakan kopernya kemarin tak lain adalah Ky. Abdul Karim. Kontan, santri baru tersebut tersentak kaget, Beberapa hari kemudian, entah tak kuat menahan atau menanggung malu, santri baru itu pulang kampung, dan tidak pamit.

    📝Sepenggal kisah di atas, salah satu bentuk kerendahan hati Ky. Abdul Karim, Sebab beliau ini juga dikenal sangat sabar dan jauh dari sifat marah, santun dalam bertutur dan jika menasehati orang lain lebih pada bentuk tindakan dari pada kata-kata. Lebih dari itu, beliau ini berasal dari keluarga biasa yang berjuang dan tekun belajar hingga akhirnya bisa menjadi kiyai yang 'alim.

     📝Ky.Abdul Karim yang lahir sekitar tahun 1856, di dukuh Banar, desa Diangan, Kawedanan Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah ini, ketika kecil oleh orang tuanya dikasih nama Manab, beliau merupakan putra ketiga dari pasangan bapak Abdur Rohim dan ibu Salamah. Selain sebagai seorang petani, ayah beliau merupakan seorang pedagang, kehidupan keluarga bapak Abdur Rohim sebenarnya berkecukupan, hanya setelah sang ayah meninggal dan usaha itu dilanjutkan oleh sang istri serta tak lama kemudian ibu Salamah menikah lagi, beliau kemudian memutuskan untuk mengembara dengan tujuan menuntut ilmu, ingin meniru kedua kakaknya, yakni Aliman dan Mu`min yang lebih dulu berkelana. Keinginan beliau itu, nampaknya terinspirasi dari kharisma alim ulama' pengikut P. Diponegoro, seperti Kiyai Imam Rofi`i dari Bagelan, Kiyai Hasan Bashori dari Banyumas dan lain-lain. Beliau ingin mengikuti jejak mereka. Beliau tidak rela jika hanya menjadi orang biasa, karena itu walau beliau ini hanya anak seorang petani biasa, tapi beliau yakin bahwa keturunan sejati adalah keturunan sesudahnya, bukan sebelumnya. Karena bagi beliau, nasab tidaklah penting, yang penting adalah ilmu.

     📝Suatu hari, Aliman pulang ke Magelang, dan bermaksud mengajak beliau yang saat itu masih berusia 14 tahun untuk berkelana, dan akhirnya keduanya berangkat ke Jawa Timur. Dalam perjalanan itu, kedunya sampai di Dusun Gurah Kediri ( bernama Babadan), di susun inilah, kedunya menemukan sebuah surau yang diasuh oleh seorang kiyai, kemudian keduanya mulai nyantri disitu untuk mempelajari ilmu-ilmu dasar, seperti ilmu amalaiyah dengan membagi waktu sambil ikut mengetam padi, menjadi buruh warga desa saat panen tiba.

    📝Setelah dirasa cukup, beliau meneruskan nyantri ke pesantren yang terletak di Cepoko, sekitar 20 kilometer sebelah selatannya kota Nganjuk, dan sambil bekerja di pesantren itu. Di Cepoko ini beliau belajar selama 6 tahun, lalu melanjutkan mencari ilmu ke pesantren Trayang, Bangsri, Kertosono. Di pesantren ini pula, konon belisu memperdalam al-Qur`an.

    📝Dengan berjalannya waktu, beliau kian beranjak dewasa, beliau semakin menambah ilmu dengan tekun mengaji dan seakan tak puas hanya belajar dari dua pesantren, kemudian beliau melanjutkan nyantri ke Sidoarjo, pesantren Sono, yang terkenal akan ilmu shorofnya. Di pesantren ini, beliau mondok sekitar 7 tahun dan tidak lagi belajar sambil bekerja, karena seluruh kebutuhannya sudah ditanggung kakaknya. Beliau sempat becerita kepada cucu tertuanya, yaitu gus Ahmad Hafidz, “Aku bisa nyantri, karena dianggat oleh kakakku”.
    Di pesantren Sono ini, beliau memperdalam ilmu shorof, karena beliau ingin menjadi spesialis ilmu gramatika Arab, sehingga memilih ilmu shorof sebagai hobinya. Dan baginya, ilmu shorof itu bagaikan ibunya ilmu sedangkan nahwu adalah ayahnya ilmu. Dari Sono, beliau lalu nyantri ke pesantren Kedungdoro dan kemudian ke Madura untuk nyantri kepada kiyai Kholil bangkalan (wafat tahun 1923).

     📝Saat belajar ilmu di Bangkalan Madura, beliau banyak menimba ilmu dan tak jarang menerima berbagai ujian. Sempat suatu ketika, beliau bekerja guna mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari bersama Abdullah Faqih (dari Cemara, Banyuwangi) ke daerah Banguwangi dan Jember. Tapi apa yang terjadi, setelah beliau bersusah payah bekerja dan pulang dengan membawa hasil? Justru, hasil dari kerjanya itu diminta oleh kiyai Kholil untuk makanan kambing-kambing sang kiyai. Mau bagaimana lagi, beliaupun menyerahkannya. Rupanya, itu sebagai isyarat dari Kiyai Kholil bahwa beliau ternyata tidak diijinkan bekerja. Konon, sebagai gantinya beliau disuruh memetik daun pace yang tumbuh di sekitar pondok untuk makan sehari-hari, dan dari daun pace itu puls, beliau mengganjal perutnya setiap hari. Konon, beliau sering makan sisa kerak nasi dari teman-temannya atau kadang ampas kelapa, tetapi semua ini tidak pernah beliau keluhkan. Bertahun-tahun beliau melakukan tirakat ini sehingga tak aneh jika beliau lebih dikenal sebagai santri yang betah dalam keadaaan lapar. Dan semua itu bagi beliau hanya dirasa sebagai bentuk “perjuangan” untuk mendapat sesuatu yang diharapkan kelak.

    📝Hampir 23 tahun beliau nyantri dengan kiyai Kholil bangkalan Madura ini. Saat itu beliau sudah berusia 40 tahun, sehingga sudah mencerminkan sosok yang alim dan figur. Dan tdak salah jika santri-santri menempatkan beliau sebagai kiyai, tempat untuk bertanya, minta pendapat dan berguru. Salah satu kiyai yang sempat berguru kepadanya adalah Kiai Faqih asal Patik Nganjuk.

    📝Kealiman beliau tentunya bukan sesuatu yang turun begitu saja dari langit. Beliau dengan tekun mengaji kitab-kitab kuning dan melakukan telaah, meski beliau kekurangan uang untuk membeli kitab, namun beliau punya siasat jitu. Konon, beliau sering melakukan barter, Kitab yang sudah beliau pelajari, beliau tukar dengan kitab-kitab baru milik temannya. Kadang langsung dijual, lalu dari uang itu beliau belikan kitab yang baru.

     📝Diambil Menantu Seorang Kiai
   Setelah cukup lama nyantri di tempat kiyai Kholil, beliau berpamit untuk pulang. Namun sesampainya di Jawa Timur, beliau mendengar salah satu sahabatnya ketika mondok di Madura, kiyai Hasyim Asy`ari telah 3 tahun mendirikan pesantren di Tebuireng, Jombang. Kemudian muncul keinginan untuk singgah di pesantren ini dahulu, tapi ternyata beliau tidak hanya sekedar singgah, tapu malah sempat nyantri di tebuireng ini selama 5 tahun.
Meskipun usia beliau ketika itu sudah mendekati setengah abad, tapi beliau belum juga melepas masa lajangnya. Dan tanpa diduga-duga, datanglah seorang kiyai dari Pare Keciri kepada kiyai Hasyim asy'ari yang ingin mengambil menantu beliau. Tetapi, kiyai Hasyim diam-diam menolak lamaran itu, karena ingin menjodohkannya dengan salah seorang putri kerabatnya, yaitu putri Ky. Sholeh dari Banjarmlati, Kediri. Beliau yang saat itu berusia 50 tahun akhirnya menikah dengan Nyai Khodijah yang baru berusia 15 tahun. Walaupun sudah menikah, beliau tetap masih nyantri juga di Tebuireng.
     Setengah tahun kemudian, karena sebagai suami, beliau akhirnya bermukim di Banjarmlati mendampingi sang istri. Satu tahun kemudian, lahirlah putri pertama beliau, dan di beri nama Hannah (1909) dan waktu itu beliau masih belum memiliki rumah. Akhirnya, Ky. Sholeh berkeinginan membeli tanah di Lirboyo dan memberikannya kepada beliau. Pembelian itu tidak menemui masalah, sebab Lirboyo dikenal sarang dari keonaran sehingga lurah Lirboyo yang tak mampu lagi menentramkannya memohon bantuan KH Sholeh untuk menempatkan menantunya agar masyarakatnya yang kering akan siraman rohani bisa sadar. Akhirnya, kiyai Manab/kiyai Abdul karim pun menetap di Lirboyo. Dari situ, kiyai Manab boleh dikatakan merintis dari awal. Bahkan, di awal-awal kiyai Manab menetap di Lirboyo tidak jarang kena terror. Tujuannya agar kiyai Manab tak betah. Tapi dengan ketabahannya, kiyai Manab justru berhasil menyadarkan penduduk. Lalu, kiyai Manab memulai membangun sarana peribadatan, musholla yang 3 tahun kemudian disempurnakan menjadi masjid pada tahun 1913. Dengan keberadaan masjid itu keberhasilan dakwah kiyai Manab kian nampak. Masjid itu tidak sekedar hanya sebagai tempat ibadah, melainkan juga sebagai sarana pendidikan dan pengajian.
    Dari situ, banyak masyarakat yang kemudian berguru, malahan ada seorang santri yang datang dari Madiun, bernama Umar. Santri pertama inilah yang kemudian menjadi cikal bakal keluarga besar pesantren Lirboyo, yang dirintis dari nol oleh kiai Manab.

    📝Dengan Sedekah Pergi ke Mekkah
    Dengan tekun, rajin dan tabah, kiyai Manab mengembangkan pesantren. Dalam satu dasawarsa sudah banyak kemajuan yang dicapai. Jumlah santri semakin bertambah, datang dari berbagai penjuru. Untuk itu, kemudian beliau merelakan sebagian tanahnya untuk dihuni santri. Begitulah sifat kiyai Manab, seorang pemimpin sejati yang mendahulukan kepentingan orang di atas kepentingan pibadi.
Tapi belum sempurna jika kiyai Manab belum menunaikan rukun Islam kelima. Itulah yang masih mengganjal dalam benaknya. Karena itu, setelah kebutuhan santri dipenuhi, beliau berkeinginan untuk menunaikan ibadah haji. Awalnya, beliau mau menjual tanah untuk biaya haji, tapi sebelum tanah itu terjual, kabar keberangkatan ternyata sudah tersiar. Dari kabar itulah, banyak penduduk yang ingin mengucapkan selamat dan memberikan tambahan bekal. Anehnya, dari uang pemberian itu terkumpul uang banyak dan sudah bisa digunakan pergi haji dengan tanpa harus menjual tanah. Akhirnya, kiyai Manab pun bengkat ke tanah suci dan sepulang dari tanah suci itu, kiyai Manab mengganti namanya menjadi Kiyai Haji Abdul Karim.

📝Ada satu sisi kehidupan KH. Abdul Karim yang patut diteladani, yakni suka riyadhoh, mengolah jiwa (tirakat). Kebiasaan ini tak pernah ditinggalkan, sejak menuntut ilmu sampai berkeluarga dan menjadi kiyai pemangku pesantren. Selain itu, sering menghidupkan sholat malam. Jarang tidur, toh jika tidur cuma sebentar. Beliau habiskan malam dengan dzikir, munajat kepada Allah, membaca al-Qur`an dan menelaah kitab. Kebiasaan ini tak asing di mata santri. Beliau juga dikenal lembut. Terbukti ketika menyadarkan santri, beliau memilih jalan menasehatinya dengan tindakan dan kadang-kadang dalam bentuk tulisan yang ditempelkan di dinding pesantren. Pendek kata, kiai memilih jalan menasehati tanpa ada unsur pemaksaan. Apalagi, sampai dengan cara melukai hati. Tapi, hal yang sungguh luar biasa adalah bentuk tawakkal yang dipegang teguh oleh KH Abdul Karim. Pernah Belanda menyerbu ke pesantren tapi ia tetap diam dan tak gentar sedikitpun. Meski demikian, di masa penjajahan Belanda, beliau tak lantas berpangku tangan. Bahkan pada zaman penjajahan Jepang (1942-1945), beliau bersama para ulama' sempat dipanggil ke Jakarta. Tujuan Jepang saat itu adalah untuk membentuk Shumubu, Jawatan Agama Pusat yang kemudian diketuai oleh KH. Hasyim Asy`ari dan Shumubu. Kiyai yang lahir di Magelang ini juga ikut menggembleng dan memberikan doa restu kepada barisan Sabilillah dan Hizbullah. Di samping itu, beliai mengirimkan para santrinya untuk ikut bertempur di Medan laga, dua kali ke Surabaya dengan jumlah santri mencapai 97 dan 74 orang, dan sekali ke Sidoarjo dengan jumlah pasukan 309 santri. Juga sempat terlibat dalam pelucutan senjata tentara Jepang di Kediri. Jadi, sang kiai terlibat dalam mempertahankan kemerdekaan negeri ini.

      📝Masa-masa Akhir
    Sekitar tahun 50-an, usia beliau sudah mendekati satu abad. Tetapi, usia itu tidak menghalangi niatnya untuk menunaikan ibadah haji, menyertai ibu nyai. Tahun 1952, berkat bantuan biaya dari haji Khozin, seorang dermawan asal Madiun yang waktu itu juga hendak menunaikan ibadah haji, beliau ingin menunaikan ibadah haji kembali. Tetapi tatkala tiba di Surabaya, kondisinya tampak payah, sehingga tim dokter meragukan kesehatan beliau untuk dapat menunaikan ibadah haji. Tapi, karena niat itu sudah bulat, maka beliau melakukan berbagai cara. Atas bantuan KH. Wahid Hasyim akhirnya ia bisa berangkat dari Jakarta. Seusai ibadah haji kedua, KH Abdul Karim mulai menunjukkan tanda kurang sehat. Beberapa waktu, sempat sakit-sakitan. Akan tetapi yang cukup menyedihkan adalah kesehatan itu kian turun drastis sehingga saraf sebelah kaki tak lagi berfungsi, mengakibatkan ia lumpuh. Sebenarnya kelumpuhan itu sempat diderita cukup lama, hampir satu setengah tahun. Sampai akhirnya saat memasuki bulan Romadhon 1374 H, seminggu kemudian sakit KH. Abdul Karim semakin kritis, sehingga tidak mampu lagi memberikan pengajian dan menjadi imam jama`ah dalam sholat. Tepat, pada hari senin ketiga di bulan suci Ramadhan tahun itu, atau tepatnya tanggal 21 Ramdhan 1374 H, sekitar pukul 13.30 KH. Abdul Karim dipanggil Yang Kuasa. Suasana sedih tentu melingkari keluarga pesantren Lirboyo. Sebab, pendiri pesantren yang selama itu diagungkan telah tiada. Pada sisi yang lain, juga meninggalkan jejak bangunan pesantren yang perlu untuk diteruskan. Itulah kisah panjang dan perjuangan pendiri sejati, yang telah memulai segala sesuatu dari nol hingga mampu meletakkan tonggak sejarah pesantren Lirboyo dengan melahirkan nasab yang sekarang meneruskan estafet perjuangan dalam menambah deretan pesantren di tanah air ini. Semoga kita bisa meneladani kehidupan dan perjuangan yang telah ditanamkan dalam memberikan sumbangan kepada santri. (diolah dari buku 3 Tokoh Lirboyo)

2. KH Abdul Karim (Lirboyo).
3. KH Hasyim Asy’ari (tebu ireng) 
4. •Syaikh Kholil Bangkalan Madura •Syaikh Mahfudz at-. Turmusi •syaih nawawi al bantani •syaih khotib minangkabawi •sayyid abbas al almaliki (kakek sayyid muhammad  Alawi al maliki makkah).
5. Sayyid Abi Bakar bin Muhammad Syatho al-Makki (pengarang ianatuttholibin).
6. Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan .
7. Syaikh Ustman bin Hasan ad-Dimyati.
8. Syaikh Abdullah bin Hijazi asy-Syarqowi.
9. Syaikh Muhammad bin Salim al-Hafni.
10. Syaikh Ahmad al-Khulaifi.
11. Syaikh Ahmad al-Bisybisyi.
12. Syaikh Sulthan bin Ahmad al-Mazzahi.
13. Syaikh Ali az-Ziyadi.
14. Al-Muhaqqiq Syaikh Ahmad bin Hajar al-Haitami.
15. Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari.
16. Syaikh Jalaludin al-Mahalli.
17. Syaikh Al-Wali Ahmad bin Abdurrahim al-‘Iraqi.
18. Syaikh Abdurrahim bin Husain al-‘Iraqi.
19. Syaikh Sirajuddin al-Bulqini.
20. Syaikh ‘Alauddin bin al-‘Atthar.
21. Al-Imam Yahya an-Nawawi (Muharrar al-Madzhab).
22. Syiakh Abi Hafsh, (Umar bin As’ad az-Zai’i).
23. Syaikh Abi Umar (Ustman bin Abdurrahman/Ibnu Shalah asy-Syahruzuri).
24. Syaikh Abdurrahman (ayah Ibnu Shalah).
25. Syaikh Abi Sa’ad (Abdullah bin Abi ‘Ashrun).
26. Syaikh Abi Ali al-Fariqi.
27. Syaikh Abi Ishaq (Ibrahim Syaerozi).
28. Syaikh al-Qodhi Abi al-Thayyib (Thahir bin Abdullah al-Thabri).
29. Syaikh Abil Hasan (Muhammad bin Ali al-Masirji).
30. Syaikh Abi Ishaq (Ibrahim bin Ahmad al-Marwazi).
31. Syaikh Abil Abbas (Ahmad bin Syuraij al-Bagdadi).
32. Syaikh Abil Qosim (Ustman bin Sa’id bin Yastar al-Anmathi).
33. Syaikh Ismail bin Yahya al-Muzani.
34. Imam asy-Syafii (Abu Abdillah Muhammad bin Idris).
35. Imam Maliki (Malik bin Anas).
36. Nafi’.
37. Abdullah bin Umar.
38. Rasulullah Muhammad SAW.

Silsilah Sanad Dalail Khairat
Pondok Pesantren Lirboyo Kediri...
Dari Jalur Sanad Syekh Abdul Karim Lirboyo...

Sanad Guru :
1. Sayyid Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman Al Jazuli
2. Sayyid Abdul Aziz At_tiba'i
3. Sayyid Ahmad bin Musa As_simlali
4. Sayyid Ahmad bin Abil Abbas Ash_shoma'i
5. Sayyid Ahmad Al_muqri
6. Sayyid Ahmad bin Abdul Qadir Al_fasi
7. Sayyid Ahmad bin Al_hajji
8. Sayyid Muhammad bin Ahmad bin Ahmad Al_mutsni
9. Sayyid Muhammad bin Ahmad Al_madgori
10. Sayyid Ali bin Yusuf Al_madani
11. Sayyid Muhammad Amin bin Ahmad Ridwan Al_madani
12. Syekh Mahfudz bin Abdullah At_tarmasi
13. Syekh Dimyati bin Abdullah At_tarmasi
14. Syekh Hasyim Asy'ari Al_jumbani
15. Syekh Abdul Karim Lirboyo Kediri
16. Syekh Marzuki Dahlan Lirboyo Kediri
17. Syekh Mahrus Ali Lirboyo Kediri
18. Kh Abdullah Kafabihi Mahrus Lirboyo Kediri

Sumber dari berbagai ulama' yang kuat sanad keilmuan dan sanad dalail Khoirot. 

       والله أعلم

Creator ; Ahmad fathony masyhury assamaronjy


Copy right © 2026 kopi santri keling - All rights reserverd

Tidak ada komentar:

DAFTAR ISI

011.KH.ABDUL KARIM (1856 -- 1954 ) PENDIRI PONDOK PESANTREN LIRBOYO KEDIRI JAWA TIMUR

KH. ABDUL KARIM (1856 -- 1954 M)  PENDIRI PONDOK PESANTREN LIRBOYO KEDIRI JAWA TIMUR     📝Penampilan pendiri dan pondok pesantr...