<< اللهم صل على محمد وسلم >> << اللهم صل على محمد وسلم >>

Jumat, 06 Februari 2026

010.KY.MUKHTAR SYAFA'AT BLOKAGUNG BANYUWANGI

 KY.MUKHTAR SYAFA'AT BLOKAGUNG BANYUWANGI 


   📝KY.Mukhtar syafa'at Blokagung Banyuwangi adalah seorang ulama' besar di Banyuwangi yang dikenal luas karena sikap dan keteladanannya bagi umat, beliau adalah pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Blokagung, Jajag, Banyuwangi. Pada suatu waktu, Kyai Dimyati (putra KH. Ibrahim) mengalami kondisi jadzab atau perilaku yang tidak biasa. Dalam keadaan tersebut, ia mengusir Ky.Syafa’at beserta dua sahabatnya, yaitu Ky.Mawardi dan Ky.Keling, yang merupakan santri yang tidak disukainya. Ketika Ky.Syafa’at sedang mengajar, Ky.Dimyati (Syarif) bahkan melemparinya dengan tujuan agar Ky.Syafa’at meninggalkan pondok. Akhirnya, Ky.Syafa’at pun keluar dari Pondok Pesantren Jalen Genteng, ditemani seorang santri bernama Muhyidin asal Pacitan, menuju rumah kakak perempuannya, Uminatun, di Blokagung.

   📝Perjuangan beliau bermula dari sebuah musholla milik sang kakak. Awalnya, beliau mengajarkan Al-Qur’an dan beberapa kitab dasar kepada para pemuda di sekitar lingkungan tersebut, tak lama kemudian, para santri yang pernah belajar di Pondok Pesantren Jalen turut berdatangan, dan dalam beberapa bulan saja, musholla itu tidak lagi mampu menampung jumlah santri yang semakin banyak.

   📝Melihat keadaan tersebut, Ky.Syafa’at merasa prihatin dan berniat pindah dari Blokagung, namun niat itu dicegah oleh Ky.Sholehan, bahkan beliau kemudian dinikahkan dengan seorang perempuan bernama Siti Maryam, putri Bapak Karto Diwiryo Abdul Hadi. Setelah menikah, Kyai Syafa’at menetap di rumah mertuanya yang juga memiliki musholla berukuran sekitar 7 x 7 meter. Dan dalam waktu sekitar satu tahun, jumlah santri kembali bertambah pesat sehingga musholla tersebut tidak lagi mencukupinya, sehingga muncullah gagasan untuk membangun sebuah masjid yang lebih luas sebagai tempat sholat dan belajar. Kemudian para santri pun diperintahkan mengumpulkan bahan bangunan untuk membangun masjid. Peristiwa ini terjadi pada tgl 15 Januari 1951 M, yang kemudian hingga sekarang diperingati sebagai tanggal berdirinya Pondok Pesantren Darussalam Blokagung. Dalam proses pendiriannya pondok Blokagung ini tentu saja beliau tidak sendirian, akan tetapi  beliau dibantu oleh dua sahabatnya yaitu Ky.Muhyidin dan Ky.Mualim.

    📝Ky. Mukhtar Syafa’at Abdul Ghafur adalah seorang ulama' dan guru teladan umat. Beliau lahir di Dusun Sumontoro, Desa Ploso Lor, Kecamatan Ploso Wetan, Kediri, pada 6 Maret 1919. Beliau merupakan putra keempat dari pasangan Ky. Abdul Ghofur dan Nyai Sangkep. Dari jalur ayah, beliau merupakan keturunan dari seorang pejuang yaitu Pangeran Diponegoro, sedangkan dari garis ibu beliau juga merupakan seorang  keturunan dari pejuang yaitu Untung Suropati.

    📝Sejak usia dini, Ky.Syafa’at telah menunjukkan kecintaan yang besar terhadap ilmu agama, kecintaanya ini terlihat sejak beliau berumur empat tahun, beliau tekun mengaji di musholla terdekat di bawah bimbingan Ky.Abdul Ghofur. Kemudian ketika usianya menginjak 6 tahun, Pada tahun 1925, beliau melanjutkan belajar mengaji kepada Ky.Hasan Abdi di Blokagung, Tegalsari, Banyuwangi.

    Setelah berumur 9 tahun dan dikhitan pada tahun 1928, beliau melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, yang diasuh Ky.Hasyim Asy’ari. Di sana beliau mendalami berbagai disiplin ilmu agama seperti nahwu, shorof, fiqih, tafsir, serta akhlak dan tashowuf.

    Setelah beberapa tahun menimba ilmu di PP.Tebuireng Jombang, pada 1936 ayahnya meminta beliau untuk pulang agar saudara lainnya dapat bergantian mondok, akan tetapi permintaan tersebut ditolaknya dengan cara halus karena keinginannya untuk terus memperdalam ilmu agama. Atas saran kakaknya yaitu Ny.Uminatun, pada 1937 ia melanjutkan mengaji ke Pondok Pesantren Minhajut Thulab, Sumber Beras, Muncar, Banyuwangi, yang waktu itu diasuh oleh Ky.Abdul Manan. Akan tetapi selama mondok di Minhajut Thulab, ky.Syafa’at sering mengalami sakit. Sehingga setelah sekitar satu tahun, beliau berpindah ke Pondok Pesantren Tasmirit Thulabah yang diasuh KH. Ibrahim. Di pondok ini, selain belajar, beliau juga dipercaya mengajar santri lain serta mulai mendalami ilmu tashowuf melalui kitab Ihya’ Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali. Ajaran tashowuf yang dipelajarinya tidak hanya dipahami secara teori, tetapi juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam ibadah maupun pergaulan. Beliau dikenal sangat menjaga adab, kesucian diri, dan disiplin sholat berjamaah. Meskipun beliau termasuk santri yang kasab, yaitu santri yang mondok sambil bekerja, dalam menjaga diri, beliau sangat berhati-hati dalam berhubungan dengan lawan jenis, bahkan ketika dijodohkan, beliau bersikap seolah tidak waras agar rencana perjodohan tersebut dibatalkan.

    📝Perjalanan menuntut ilmu Kyai Syafa’at penuh dengan perjuangan, kesabaran, dan pengorbanan. Kondisi hidupnya sering memprihatinkan. Sahabatnya, Ky.Mu’allim Syarkowi menuturkan, bahwa selama mondok di Tasmirit Thulabah, Ky.Syafa’at sering sakit dan tidak mendapat kiriman dari orang tua, dan harus bekerja menjadi petani di siang hari, lalu mengaji pada malam harinya. Meskipun demikian, semangatnya menuntut ilmu tidak pernah surut, Pada masa pendudukan Jepang, beliau ikut aktif dalam perjuangan kemerdekaan sebagai juru fatwa dan sumber pertimbangan perjuangan. Beliau juga pernah mengalami kerja paksa Jepang di Tumpang Pitu sebagai penggali parit. Dan ketika Belanda kembali datang, Ky.Syafa’at bergabung dalam Barisan Keamanan Rakyat dan ikut dalam perang gerilya di Alas Purwo dan Sukamade. Dan pada pasca penjajahan, pada tahun 1949 M beliau mulai merintis Pesantren Darussalam yang terus berkembang hingga memiliki banyak santri. Hal ini tak lepas dari keteladanan dan kharisma Ky.Syafa’at. Beliau juga dikenal membantu pengobatan masyarakat, menangkal gangguan santet, serta sangat memuliakan tamu. Kesederhanaan, qona’ah, dan kewaro'an menjadi ciri kuat kepribadiannya. Beliau tidak silau harta dan hanya menerima secukupnya. Semangat memberi beliau sangat luar biasa, saat hendak berangkat haji dan berziarah ke Sunan Ampel, seluruh uangnya habis disedekahkan kepada para pengemis. Bahkan beliau sempat berhutang demi menyempurnakan sedekahnya.

KH. Syafa’at juga sangat berhati-hati terhadap hak orang lain. Pernah pada suatu ketika, beliau memerintahkan sopirnya untuk mengembalikan batu bata yang dipakai mengganjal mobil karena bukan miliknya. Selain aktif bermasyarakat, beliau juga aktif di Nahdlatul Ulama hingga menjabat sebagai Musytasyar wilayah Banyuwangi.
Ky.Mukhtar Syafa’at wafat pada Jumat malam, 1 Februari 1991 (17 Rajab 1411 H), meninggalkan 21 orang anak. Jenazah beliau disholati hingga 17 kali dan dimakamkan di kompleks makam keluarga dekat Pesantren Darussalam Blokagung, Banyuwangi.

والله اعلم

Creator ; Ahmad fathony masyhury assamaronjy


Copy right © 2026 kopi santri keling - All rights reserverd

DAFTAR ISI

010.KY.MUKHTAR SYAFA'AT BLOKAGUNG BANYUWANGI

  KY.MUKHTAR SYAFA'AT BLOKAGUNG BANYUWANGI      📝 KY.Mukhtar syafa'at  Blokagung Banyuwangi adalah seorang ulama' b...