Masjid Raya Sheikh Zayed Solo bukan sekadar tempat ibadah, melainkan simbol persahabatan diplomatik yang erat antara Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA). Berikut adalah poin-poin penting sejarah berdirinya:
1. Hadiah Persahabatan
Masjid ini merupakan hibah atau hadiah dari Presiden UEA, Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan (MBZ), untuk Presiden Joko Widodo. Pembangunan ini menjadi tanda penghormatan dan kerja sama bilateral yang kuat antara kedua negara.
2. Proses Pembangunan
Peletakan Batu Pertama (Groundbreaking): Dilakukan pada 6 Maret 2021 di lahan bekas depo Pertamina, Gilingan, Banjarsari, Solo.
Waktu Pembangunan: Memakan waktu sekitar 20 bulan dengan melibatkan pekerja dan material terbaik untuk menjaga kemiripan dengan aslinya.
3. Peresmian
Masjid ini diresmikan pada 14 November 2022 oleh Presiden Joko Widodo bersama Presiden MBZ. Peresmian ini dilakukan di sela-sela rangkaian kegiatan KTT G20 di Indonesia. Meski sudah diresmikan sejak akhir 2022, masjid ini baru dibuka secara resmi untuk umum pada akhir Februari 2023.
4. Arsitektur dan Filosofi
Masjid ini adalah replika dari Sheikh Zayed Grand Mosque di Abu Dhabi, namun dalam skala yang lebih kecil.
Desain: Mengusung gaya arsitektur Islam modern yang megah dengan dominasi warna putih dan emas.
Sentuhan Lokal: Meskipun replika Timur Tengah, interiornya tetap menyisipkan identitas Indonesia, seperti penggunaan motif Batik Kawung pada karpet dan beberapa bagian lantai masjid.
Kapasitas: Mampu menampung sekitar 10.000 jemaah di area dalam hingga selasar.
5. Fungsi Sebagai Islamic Center
Selain sebagai tempat salat, masjid ini dirancang menjadi pusat syiar Islam yang moderat. Di kawasan ini juga dibangun Islamic Center yang bertujuan menjadi pusat pendidikan, perpustakaan, dan pengembangan ekonomi syariah di Solo.
Creator ; Ahmad fathony masyhury assamaronjy
Copy right © 2025 kopi santri keling - All rights reserverd
Tidak ada komentar:
Posting Komentar